Opini

OPINI : JEJAK KARST JEJAK NALAR PEMBELAJARAN MENDALAM BERBASIS MUSEUM GEOPARK DAN DEBAT

17
×

OPINI : JEJAK KARST JEJAK NALAR PEMBELAJARAN MENDALAM BERBASIS MUSEUM GEOPARK DAN DEBAT

Sebarkan artikel ini

 

Oleh :

Mukarrama Ismail

SMAN 1 Pangkep, Sulawesi Selatan

  • Pendahuluan

Bel berbunyi tepat jam 07.00 pagi. Seluruh stakeholder SMA Negeri 1 Pangkep sudah berada di dalam lingkungan sekolah. Pelajaran jam pertama dimulai. Hari Senin, 22 September 2025 ada yang berbeda pada kegiatan mata pelajaran geografi, murid kelas X.Dermawan, kelas X.  Fleksibel dan kelas X. Inovatif mereka tidak langsung masuk kelas tapi berbaris di lapangan sekolah untuk menerima instruksi dari guru geografi. Seluruh murid di ketiga kelas ini, bersiap meninggalkan kelas menuju Museum Geopark Maros-Pangkep. Bagi sebagian orang, belajar berarti duduk, mendengar, lalu mencatat. Namun bagi saya sebagai guru geografi, belajar seharusnya dimulai ketika rasa ingin tahu bertemu dengan pengalaman nyata.

Pembelajaran mendalam yang sedang didorong oleh Kemendikdasmen memberikan ruang bagi guru untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Murid tidak hanya menguasai konsep, tetapi juga mampu berpikir kritis, berkolaborasi untuk mencapai tujuan pembelajaran, meningkatkan kreativitas, mampu menjalin komunikasi dengan baik, serta merefleksi kegiatan pembelajaran bersama teman dan guru. Semangat ini yang saya terjemahkan melalui dua pertemuan sederhana, tetapi berdampak besar bagi murid yaitu kunjungan edukatif ke Museum Geopark Maros-Pangkep dan debat terstruktur bertajuk ‘Rupiah atau Rimbawan?’.

Gambar 1. Delapan Dimensi Profil Lulusan (sumber : Kemendikdasmen)

Pembelajaran mendalam hadir untuk menjawab permasalahan mutu pendidikan seperti literasi, numerasi, keterampilan berpikir tingkat tinggi, bonus demografi 2035, visi Indonesia 2045 serta kompetensi masa depan murid. Sejalan dengan hal ini, pembelajaran edukatif ke Museum Geopark dan debat terstruktur mengintegrasikan active learning dan pembelajaran kontekstual berbasis potensi lokal merupakan bagian dari implementasi pembelajaran mendalam pada materi litosfer mata pelajaran geografi.

Hakikat pendekatan pembelajaran mendalam menambah karakteristik praktik pedagogik murid antara lain : (1)keterlibatan; guru membangun keterlibatan murid sebagai subjek belajar untuk memperoleh pengalaman yang bermakna, (2)berkesadaran; guru lebih dapat membangun kesadaran murid untuk menjadi pembelajar aktif, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan, (3) memuliakan; guru dan murid lebih saling menghargai dan menghormati potensi, martabat, dan nilai-nilai kemanusiaan, (4)pengembang budaya belajar; guru lebih dapat mengembangkan kreativitas dan berinovasi, dan melibatkan murid dalam mengembangkan pengalaman belajar, (5)pemanfaatan teknologi digital; guru dan murid lebih dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memberikan efisiensi dan efektivitas pada perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.

Salah satu metode dalam mengimplementasikan karakteristik praktik pedagogi seperti keterlibatan, berkesadaran dan pengembang budaya belajar adalah melalui metode kunjungan edukatif ke museum. Tujuan pembelajaran pada materi litosfer tercapai karena didukung oleh fasilitas yang tersedia di daerah sehingga kunjungan ke Museum Geopark Maros-Pangkep adalah pilihan. Geopark merupakan konsep pengelolaan wilayah yang mengintegrasikan konservasi warisan geologi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dalam konteks pembangunan wilayah, geopark tidak hanya dipahami sebagai kawasan dengan bentang alam unik, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran publik yang menghubungkan proses geologi, keanekaragaman hayati, budaya, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat. 

UNESCO Global Geoparks diposisikan sebagai outdoor classrooms sekaligus inkubator pembangunan berkelanjutan karena mampu menghadirkan pembelajaran geosains secara kontekstual bagi masyarakat dan komunitas pendidikan. Survei terhadap 73 UNESCO Global Geoparks dari 35 negara, menunjukkan bahwa geopark secara aktif mengembangkan program pendidikan geosains bagi komunitas sekolah. Sejalan dengan itu, UNESCO Global Geoparks menjadi wilayah penting untuk mengajarkan geosains dan kesadaran lingkungan karena geotourism dan geosciences dapat membentuk ruang belajar luar kelas yang menghubungkan aspek ilmiah, sosial, dan budaya.

Baca Juga:  OPINI : Menjadi Guru Hebat di Era Digital, Strategi Inovatif yang Menginspirasi

Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai fenomena eksokars dan endokars yang menakjubkan dan dianggap paling lengkap di Indonesia, yaitu kawasan kars Maros-Pangkep menjulang menyerupai menara (tower kars). Kawasan karst Maros-Pangkep menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark yang memiliki nilai geologi, budaya, sejarah, dan lingkungan yang sangat penting. Karena itu, saya mengajak murid belajar langsung melalui kegiatan fieldtrip ke Museum Geopark atau Pusat Informasi Geologi yang merupakan laboratorium alam, murid akan melakukan observasi, mengumpulkan informasi tentang proses terbentuknya karst, jenis batuan, keanekaragaman hayati, potensi ekonomi masyarakat, budaya lokal, hingga isu lingkungan dan mitigasi bencana.

Gambar 2. Pegunungan Karst Maros-Pangkep (sumber : Wikipedia)

Pengalaman belajar nyata membuat konsep mata pelajaran geografi menjadi lebih dekat dengan kehidupan murid sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, literasi lingkungan dan memahami mitigasi bencana. Museum menjadi media terbaik untuk mempertemukan teori di buku dengan realitas kehidupan murid. 

  • Pembahasan

  • Pertemuan Pertama : Kunjungan Edukatif ke Museum Geopark Maros-Pangkep

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan disingkat Pangkep berada di wilayah tiga dimensi yang terbentuk dari tiga bentang alam utama yaitu terdiri dari daratan, pegunungan dan 115 kepulauan yang memiliki kekayaan alam berupa deretan pegunungan karst, keanekaragaman hayati, sumber daya alam laut, dan daratan sehingga untuk memudahkan dalam memahami bentang alam terutama sejarah karst sehingga dibangun sebuah museum yang menjadi ikon kabupaten Pangkep.

Wilayah daratannya digunakan masyarakat untuk objek persawahan, permukiman, dan pusat kegiatan penduduk di kota Pangkajene. Wilayah pegunungannya digunakan area pertambangan, industri semen dan marmer karena merupakan kawasan batuan karst, sedangkan wilayah kepulauan yang terdiri wilayah perairan dan gugusan pulau Spermonde menghasilkan kekayaan laut.

Museum Geopark Maros-Pangkep terletak di kabupaten Pangkep jaraknya sekitar 850 meter dari SMA Negeri 1 Pangkep, sehingga memudahkan mobilitas murid ke lokasi.

Gambar 3. Lokasi Museum Geopark Maros-Pangkep (sumber : Mukarrama Ismail)

Museum merupakan  salah satu media pembelajaran. Museum berasal dari kata latin “Mouseion”, yaitu kuil untuk sembilan dewa muze, anak-anak Dewa Zeus yang tugas utamanya adalah menghibur. Arti museum dapat dipahami dari kegiatannya. Fungsi museum dari zaman ke zaman terus mengalami perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi, tetapi hakikatnya pengertian museum itu tidak berubah. Landasan ilmiah dan kesenian tetap menjiwai arti museum hingga kini. Museum menurut ICOM adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan untuk tujuan studi, pendidikan, dan kesenangan, barang pembuktian manusia dan lingkungannya.

Kunjungan edukatif ke Museum Geopark Maros-Pangkep dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran pada materi litosfer. Sebelum berangkat murid diberikan pertanyaan pemantik; Mengapa kawasan karst ini penting bagi kabupaten Pangkep? Siapa yang memperoleh manfaat? Apa yang akan hilang jika kawasan ini rusak? Bagaimana mengurangi kerusakan sumber daya karst yang disebabkan oleh ulah manusia? Pertanyaan tersebut menjadi kompas selama proses observasi.

Baca Juga:  OPINI : Mengenal Kearifan Lokal Suku Kajang, Melalui Penelitian Lapangan

Museum Geopark Maros-Pangkep memiliki beberapa pemandu yang dapat menjelaskan dengan detail seluruh objek yang ada di dalam museum, sebelum memberikan materi, murid diberikan arahan terkait tata tertib selama berada dalam lingkungan museum. Murid mengamati koleksi fosil, batuan, sejarah pembentukan karst, flora dan fauna endemik, potensi sosial ekonomi masyarakat sekitar hingga dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam karst. Mereka mencatat temuan pada lembar observasi yang telah disediakan guru, berdiskusi, mendokumentasikan data, dan mewawancarai pemandu museum sambil sesekali mereka berfoto dan bercanda bersama teman-temannya. 

   

   

Gambar 4. Pemandu Museum Memberikan Materi (sumber : Mukarrama Ismail)

Konsep geosfer, konservasi, sumber daya alam, pembangunan berkelanjutan, dan interaksi manusia dengan lingkungan yang sebelumnya terasa abstrak berubah menjadi nyata ketika murid melihat langsung bukti sejarah bumi dan kekayaan karst, mereka tidak lagi bertanya mengapa kawasan itu harus dijaga. Murid menemukan jawabannya sendiri melalui pengalaman. 

  • Pertemuan Kedua : Debat Terstruktur dengan Tema Rupiah atau Rimbawan

Paradigma pendidikan abad 21 berdampak pada pergeseran dalam sistem pembelajaran, yaitu yang semula berpusat pada guru berubah menjadi berpusat pada murid. Salah satu metode yang digunakan untuk menunjang pembelajaran aktif dan bermakna dalam pembelajaran adalah metode debat aktif. Metode debat aktif adalah metode pembelajaran yang unik karena mendorong murid untuk aktif bekerja sama dan berkompetisi dalam pembelajaran.

Pengalaman murid di museum selanjutnya dibawa ke ruang kelas. Saya membagi murid menjadi tiga kelompok. Tim 1 bertugas sebagai Tim Penilai, Tim 2 Rupiah bertugas mempertahankan gagasan bahwa geopark harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pertumbuhan ekonomi, investasi, lapangan kerja, dan pariwisata dan Tim 3 Rimbawan mengusung perspektif konservasi, perlindungan kawasan karst, keberlanjutan, dan hak generasi mendatang. Setiap argumen wajib didukung data hasil observasi di museum dan referensi ilmiah.

Debat berlangsung terstruktur. Murid belajar menyampaikan pendapat secara santun, menyanggah dengan data, mendengar lawan bicara, serta membangun solusi. Yang dicari bukanlah kemenangan satu kubu, melainkan lahirnya rekomendasi terbaik bagi pengelolaan Geopark Maros-Pangkep. Pada akhir kegiatan kedua kubu menyimpulkan bahwa pembangunan ekonomi dan konservasi tidak harus dipertentangkan keduanya dapat berjalan beriringan melalui prinsip pembangunan berkelanjutan.

Gambar 5. Metode Pembelajaran Debat (sumber : Mukarrama Ismail)

Model ini memenuhi karakteristik pembelajaran mendalam karena dimulai dari pengalaman autentik, dilanjutkan dengan proses berpikir tingkat tinggi, kolaborasi, komunikasi, refleksi, dan pengambilan keputusan. Peserta didik tidak sekadar mengingat fakta, tetapi menafsirkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan solusi. Guru berperan sebagai fasilitator yang menghadirkan pengalaman belajar, bukan satu-satunya sumber informasi.

Perubahan yang tampak bukan hanya pada nilai pengetahuan, murid menjadi lebih aktif bertanya, lebih percaya diri menyampaikan pendapat, lebih kritis dalam membaca data, dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Murid mulai memahami bahwa menjaga alam bukan berarti menghambat pembangunan, melainkan memastikan pembangunan tetap memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan mendatang.

Baca Juga:  Integrasi Kartu Kredit Pemerintah, Cash Management System, dan Digipay dalam Pengelolaan Keuangan Negara

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu memerlukan teknologi yang rumit. Yang dibutuhkan adalah keberanian guru memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber belajar. Museum, geopark, budaya, dan lingkungan sekitar dapat menjadi kelas tanpa dinding yang memperkaya pengalaman belajar murid.

  • Penutup

Saya percaya bahwa pembelajaran terbaik adalah pembelajaran yang meninggalkan jejak dalam cara berpikir murid. Melalui kunjungan edukatif ke Museum Geopark Maros-Pangkep dan debat ‘Rupiah atau Rimbawan?’, murid belajar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi terhadap manusia dan alam. Mereka belajar mempertimbangkan data sebelum mengambil sikap, menghargai perbedaan pendapat, serta menyusun solusi yang adil dan berkelanjutan.

Semangat belajar merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan murid dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Namun, dalam praktiknya, murid kerap menghadapi berbagai kendala seperti kejenuhan belajar yang berdampak pada menurunnya konsentrasi dan hasil belajar. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan belajar, minat dan motivasi agar proses belajar menjadi lebih efektif dan bermakna.

Pada akhirnya, pembelajaran mendalam bukan tentang seberapa banyak materi yang selesai diajarkan, melainkan seberapa dalam pengalaman itu mengubah cara murid memahami dunia. Dari ruang kelas sederhana di Pangkep, saya menyaksikan bahwa museum dapat menjadi jendela pengetahuan, debat dapat menjadi ruang pembentukan karakter, dan geografi dapat menjadi jalan untuk melahirkan generasi emas yang siap mewujudkan Indonesia bermartabat dalam pendidikan, 

Refleksi Murid

Refleksi disampaikan oleh Amira kelas X. Inovatif dan Asrullah dari kelas X. Fleksibel memberikan refleksi dalam pembelajaran geografi. Kegiatan pembelajaran ini sangat menarik karena menambah wawasan saya bahwa geografi bukan hanya tentang alam tetapi juga tentang bagaimana manusia menjaga lingkungan dan mengurangi resiko bencana. Setiap peserta mampu menyampaikan argumen dengan baik sehingga pembelajaran terasa lebih aktif, kritis, dan bermakna. Mereka berharap, melalui metode debat ini murid semakin memahami pentingnya mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.

Konsep pengaturan wisata, dan larangan eksploitasi berlebihan adalah langkah penting untuk menjaga keseimbangan alam. Pembelajaran seperti ini harus diterapkan karena dapat melatih keberanian, kerjasama, dan pola pikir kritis murid. Tak lupa murid menyampaikan terima kasih kepada Ibu Mukarrama Ismail yang telah membawakan materi dengan jelas, menarik, dan penuh semangat dan membuat pelajaran lebih hidup dan mudah dipahami.

 

Daftar Pustaka

 

Mujib, A. M., Indartin, T. R. D., Apriyanto, B., & Widyanarko, U. (2026). Edukasi Geodiversitas Kaldera Ijen Purba Berbasis Pembelajaran Lapangan bagi Generasi Muda dalam Mendukung Ijen UNESCO Global Geopark. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2 (Juni 2026) 237-251. https://www.journal.literasisains.id/index.php/abdisoshum/article/view/8265

Salsabillah, A., & Sipayung, R. K. (2026). Peran Museum Untuk Membangun Semangat Peserta Didik Dalam Pembelajaran Sejarah Serta Melestarikan Budaya Di Provinsi Jambi. Manuskrip Peradaban: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sejarah dan Sejarah Murni ISSN Cetak : XXXX-XXXX ISSN Online : XXXX-XXXX Volume 03 Nomor 02, Juni 2026. https://journal.lumiverapublishing.org/index.php/manuskripperadaban/article/view/502

Suyanto, dkk. (2022). Pembelajaran Mendalam. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan