KABARTA, BONE— Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXIV atau ke-34 Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang digelar di Kabupaten Maros resmi ditutup pada Sabtu malam (19/4/2026).
Penutupan berlangsung meriah di Lapangan Pallantikang Maros dan dihadiri tokoh penting serta ribuan masyarakat.
Kafilah Kabupaten Bone pada ajang tersebut belum berhasil meraih medali emas. Hasil ini menjadi bahan evaluasi bagi pembinaan tilawatil Qur’an di daerah berjuluk Bumi Arung Palakka itu.
Plt Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone, Muhammad Subhan, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas capaian para peserta, meskipun belum sesuai target.
“Alhamdulillah, capaian ini patut kita syukuri. Ini bukan hanya tentang juara, tetapi bagaimana proses pembinaan melahirkan generasi yang mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an. Kami berharap ke depan prestasi ini terus meningkat dan menjadi motivasi bagi kafilah lainnya,” ujarnya dalam pernyataannya, Senin (20/4/2026).
Subhan mengungkapkan, terdapat sejumlah cabang lomba yang tidak diikuti oleh Bone. Hal ini disebabkan belum optimalnya proses seleksi di tingkat kabupaten.
Ia menekankan pentingnya pelaksanaan seleksi lebih awal sebagai langkah strategis peningkatan prestasi ke depan.
“Perlu dilakukan seleksi dengan melaksanakan MTQ tingkat kabupaten lebih awal. Dibutuhkan pula dukungan kebijakan anggaran daerah,” tegasnya.
Sebelumnya, Kabupaten Bone dikenal sebagai langganan peraih medali emas dalam ajang MTQ tingkat provinsi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, capaian tersebut mengalami penurunan.
Pada MTQ ke-32 tahun 2022, Bone yang bertindak sebagai tuan rumah berhasil keluar sebagai juara umum dengan raihan 18 emas, 5 perak, dan 1 perunggu.
Sementara pada MTQ 2024 di Kabupaten Takalar, Bone turun ke peringkat kedelapan dengan perolehan 1 emas, 3 perak, dan 1 perunggu.
Adapun pada MTQ XXXIV tahun 2026 di Maros, kafilah Bone hanya mampu meraih 2 medali perak serta sejumlah posisi harapan tanpa satu pun medali emas.
Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab penurunan tersebut, di antaranya tidak adanya seleksi berjenjang di tingkat kabupaten. Selain itu, beberapa putra-putri terbaik Bone juga tercatat memperkuat daerah lain setelah mengikuti proses seleksi di wilayah tersebut.
Hasil ini diharapkan menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi seluruh pemangku kepentingan, guna mengembalikan kejayaan Bone pada ajang MTQ di masa mendatang.
(Ju)*











