Pangkep

Nasywa Aqilah, Kafilah Pangkep Jadi Juara Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an MTQ Sulsel ke-34

28
×

Nasywa Aqilah, Kafilah Pangkep Jadi Juara Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an MTQ Sulsel ke-34

Sebarkan artikel ini

KABARTA.ID, PANGKEP–– Kafilah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Nasywa Aqilah Shahib, berhasil mencatatkan prestasi membanggakan pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-34 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang digelar di Kabupaten Maros. Ia sukses melaju hingga babak final dan menjadi terbaik 1 pada cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ).

Nasywa, yang lahir di Makassar pada 25 Juli 2005, merupakan putri dari pasangan Muhammad Shahib A dan Nuraliah. Riwayat pendidikannya dimulai dari TK Negeri Pembina Pangkajene, dilanjutkan ke SD Negeri 3 Jagong, kemudian menempuh pendidikan menengah di Pondok Pesantren Ummul Mukminin.

Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa semester enam di Universitas Islam Alauddin Makassar, mengambil jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Ketertarikan Nasywa pada dunia kepenulisan ilmiah membawanya meraih sejumlah prestasi, di antaranya Juara 2 tingkat nasional pada Kompetisi Ilmiah Nasional Mahasiswa Ushuluddin (KINMU) serta Juara 2 tingkat internasional pada The International Islamic Student Competition (INISCOM).

Baca Juga:  Angkat Isu Moderasi Beragama, Nasywah Antar Pangkep ke Final KTIQ MTQ Sulsel

Dalam ajang MTQ, Nasywa bukan kali pertama berpartisipasi. Ia telah mengikuti tiga cabang lomba berbeda, yakni Tartil anak-anak (Juara 1 tingkat Kabupaten Pangkep), Hifdzil 5 Juz Putri, dan KTIQ Putri.

Kegemarannya membaca menjadi pintu awal ketertarikannya dalam menulis. Ia mulai serius menekuni penulisan karya ilmiah sejak menempuh pendidikan di bangku kuliah. Salah satu karya awalnya berjudul “Inovasi Digital Tafsir Interaktif: Platform Kolaboratif Berbasis Visual dan Multimedia untuk Memahami Ushuluddin” yang diikutkan dalam ajang KINMU.

Menurut Nasywa, keberhasilannya tidak lepas dari dorongan internal sebagai mahasiswa untuk terus berkarya, terlebih ia merupakan penerima beasiswa BIB-LPDP yang memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi melalui karya.

Baca Juga:  Raih Peringkat Enam MTQ Sulsel ke-34 Ini Daftar Peraih Juara Kafilah Pangkep

“Ada amanah besar yang saya emban sebagai penerima beasiswa untuk terus berkembang dan menghadirkan karya yang bermanfaat,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Ia juga mengaku terinspirasi dari para dosen yang aktif memproduksi karya ilmiah. Baginya, ide dan gagasan yang dituangkan secara sistematis dalam tulisan mampu memberikan dampak luas bagi masyarakat.

“Melalui tulisan, kita bisa ikut berkontribusi dalam syiar Islam dengan menghadirkan relevansi Al-Qur’an dalam kehidupan masa kini,” ungkapnya.

Dalam perlombaan KTIQ MTQ kali ini, Nasywa melalui dua tahapan dengan tema berbeda. Pada babak penyisihan, ia mengangkat tema lingkungan melalui karya berjudul “Tafsir Ekoteologis QS Al-A’raf/7:31 tentang Etika Konsumsi Berpakaian Berbasis Slow Fashion dalam Merespons Fashion Ecocide.”

Ia menjelaskan, isu lingkungan tidak hanya berkutat pada deforestasi atau sampah, tetapi juga berkaitan dengan pola konsumsi pakaian yang berdampak pada kerusakan lingkungan.

Baca Juga:  “Pancarkan Pesona Kartini Masa Kini”, KIKST Semen Tonasa Dorong Perempuan Tampil Percaya Diri

Sementara di babak semifinal, ia mengusung tema kerukunan umat beragama melalui tulisan berjudul “Reaktualisasi QS Al-Baqarah/2:143 dalam Membangun Moderasi Beragama di Tengah Polarisasi pada Era Echo Chamber.”

Menurutnya, perkembangan teknologi digital turut memengaruhi dinamika kerukunan umat beragama, sehingga nilai-nilai Al-Qur’an perlu dihadirkan sebagai landasan dalam menghadapi tantangan tersebut.

“Konten keagamaan di ruang digital sangat sensitif. Karena itu, diperlukan sikap bijak dan penguatan nilai-nilai Al-Qur’an dalam menyikapinya,” tambahnya.

Nasywa juga menekankan bahwa menulis merupakan cara sederhana namun efektif untuk menyebarkan manfaat, terutama bagi kalangan pelajar.

“Menulis bisa dimulai dari hal sederhana, seperti apa yang kita rasakan, capai, dan rencanakan setiap hari. Dari situlah karya besar bisa lahir,” tutupnya.

(MUN)*

Tinggalkan Balasan