Daerah

Lima Tahun Land4Lives di Bone Berakhir, Wabup Apresiasi Capaian, Dorong Pengelolaan Berkelanjutan

30
×

Lima Tahun Land4Lives di Bone Berakhir, Wabup Apresiasi Capaian, Dorong Pengelolaan Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

KABARTA.ID, BONE— Setelah lima tahun mendampingi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Bone, program Land4Lives resmi mengakhiri rangkaian kegiatannya di Kabupaten Bone.

Penutupan tersebut ditandai dengan Dialog Multipihak Land4Lives bertajuk Meneguhkan Komitmen Bersama untuk Lanskap Sehat dan Masyarakat Sejahtera yang digelar di Hotel Novena, Watampone, Selasa (6/10/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum penyerahan berbagai capaian, pengetahuan, praktik baik, serta dokumen perencanaan hasil pendampingan Land4Lives kepada Pemerintah Kabupaten Bone untuk dilanjutkan secara berkelanjutan.

Program Land4Lives merupakan proyek riset-aksi yang didukung Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada dan dilaksanakan ICRAF Indonesia, yang kini menggunakan nama operasional Landscape Alliance.

Di Kabupaten Bone, kerja sama dengan pemerintah daerah dimulai sejak 2021, sementara kegiatan lapangan berlangsung sejak 2022 dengan melibatkan mitra lokal Yayasan Sulawesi Cipta Forum (SCF) dan Yayasan Lembaga Pengkajian Masyarakat Indonesia (YLPMI).

Land4Lives berfokus pada penguatan penghidupan masyarakat agar lebih tangguh menghadapi perubahan iklim dan guncangan ekonomi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan, terutama bagi kelompok rentan, perempuan dan anak perempuan.

Wakil Bupati Bone, H. Andi Akmal Pasluddin, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang telah dilakukan selama lima tahun tersebut.

“Lima tahun kita bersama ICRAF. Kita patut berterima kasih karena Bone menjadi salah satu dari tiga daerah sasaran Land4Lives di Indonesia,” ujar Andi Akmal.

Menurutnya, pendampingan Land4Lives telah memberikan kontribusi terhadap perencanaan dan pengelolaan bentang lahan, sekaligus mendorong masyarakat mengembangkan praktik yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Ia mengatakan, ketahanan pangan, ketahanan iklim dan pengelolaan bentang lahan merupakan isu yang saling berkaitan dan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Baca Juga:  Hadiri Anging Mammiri Business Fair 2025, Wabup Andi Akmal Pasluddin Dukung Arah Baru Ekonomi Hijau

“Terima kasih kepada ICRAF Indonesia dan Global Affairs Canada yang telah memberikan pengetahuan dan pendampingan. Ada beberapa desa yang telah menjadi percontohan sehingga lahannya dapat menjadi lebih produktif,” katanya.

Andi Akmal berharap berbagai praktik baik yang telah dikembangkan di desa-desa dampingan tidak berhenti setelah program berakhir. Menurutnya, pendekatan tersebut perlu direplikasi ke wilayah lain agar manfaatnya semakin luas.

“Yang terpenting bagaimana Land4Lives ini hadir untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Bentang lahan bisa kita tanami berbagai macam tanaman yang saling mendukung tanpa merusak fungsi lahan dan lingkungan,” jelasnya.

Selama pelaksanaan program, Land4Lives mendampingi 12 desa di tujuh kecamatan, yakni Bontocani, Kahu, Patimpeng, Lappariaja, Ponre, Dua Boccoe dan Cenrana. Selain itu, mitra lokal juga mereplikasi pendampingan di 24 desa lainnya.

Di tingkat tapak, sebanyak 789 orang mengikuti pelatihan pertanian cerdas iklim, dengan 57 persen di antaranya perempuan. Program tersebut mencakup praktik peremajaan tanaman, penggunaan pupuk organik, agroforestri hingga wanamina.

Pendampingan juga menghasilkan 36 kebun belajar agroforestri dan 10 tambak belajar. Enam Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim (TP2CI) turut dikembangkan sebagai lokasi pembelajaran bagi petani.

Untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, sebanyak 506 rumah tangga telah mengelola kebun pekarangan, sementara 43 kebun pangan komunal dibangun. Sebanyak 605 warga juga mengikuti edukasi gizi dan pangan lokal.

Dari sisi ekonomi, terbentuk 34 kelompok usaha berbasis agroforestri dengan 968 anggota. Sejumlah kelompok telah memperoleh legalitas usaha, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB), izin P-IRT dan sertifikat halal.

Baca Juga:  Bupati Bone Resmikan Jalan Desa Binuang, Warga Sambut dengan Sukacita

Sebanyak 1.055 penerima manfaat juga telah terhubung dengan pasar. Produk yang dikembangkan antara lain kakao dan pupuk guano dari Desa Cabbeng yang pemasarannya telah menjangkau sejumlah wilayah di luar Sulawesi Selatan.

Program tersebut juga mendorong pengarusutamaan gender dan ketahanan keluarga. Desa Massila, Kecamatan Patimpeng, menjadi desa rintisan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Selain itu, 65 fasilitator dilatih melalui program PAPA Gizi untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pemenuhan gizi keluarga.

Empat desa dampingan, yakni Turu Adae, Latellang, Massila dan Waekeccee, juga telah terdaftar dalam Program Kampung Iklim (ProKlim).

Sejumlah pendekatan Land4Lives bahkan telah diadopsi pemerintah daerah. Dinas Kesehatan memasukkan konsep Isi Piringku Lokal dalam layanan rutin di 38 puskesmas.

Bersama Dinas Pendidikan, muatan lokal “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim” telah diujicobakan di 32 sekolah dengan melibatkan sekitar 2.000 murid. Kurikulum tersebut kemudian disahkan melalui Peraturan Bupati pada 2025 dan mulai diterapkan di seluruh SD dan SMP pada tahun ajaran 2026/2027.

Di tingkat bentang lahan, Land4Lives turut mendorong pengelolaan DAS Bila Walanae yang mencakup wilayah seluas sekitar 744.896 hektare.

Kelompok Kerja (Pokja) Bentang Lahan dengan 86 anggota dan tiga gugus tugas dibentuk untuk memperkuat koordinasi lintas sektor. Bersama Forum DAS Sulawesi Selatan, Pokja tersebut menyusun Rencana Pengelolaan DAS (RPDAS) Bila Walanae yang kini telah disahkan.

Baca Juga:  Ulaweng BerBAKAT, Inovasi Terbaru Siap Tuntaskan Administrasi Kependudukan Anak

Country Program Director ICRAF Indonesia sekaligus Koordinator Proyek Land4Lives, Andree Ekadinata, mengatakan seluruh capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak.

“Capaian ini bukan kerja sepihak. Ini buah kerja bersama pemerintah daerah, mitra, tokoh agama dan adat, fasilitator desa, dan terutama para petani perempuan dan laki-laki di Bone yang membuka diri terhadap perubahan,” ujarnya.

Menurut Andree, berakhirnya program bukan berarti berakhirnya proses yang telah dibangun selama lima tahun.

“Berakhirnya Land4Lives bukan titik henti. Ini titik mula penyerahan estafet kemandirian. Pengetahuan, dokumen perencanaan, Pokja, dan kelompok usaha yang sudah terbangun kini menjadi aset Kabupaten Bone,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Global Affairs Canada, Hari Basuki, berharap capaian program dapat terus dikembangkan setelah pendampingan Land4Lives berakhir.

“Kita berharap apa yang telah dicapai selama lima tahun ini bisa dikembangkan dan diperdalam lagi hasilnya sehingga membawa dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, penghargaan juga diberikan kepada sejumlah petani pelopor, guru pelopor muatan lokal, perwakilan Pokja Bentang Lahan, perangkat daerah dan mitra yang berkontribusi dalam pelaksanaan Land4Lives di Bone.

Penutupan juga dirangkaikan dengan dialog panel yang mempertemukan pemerintah daerah, KPH, petani pelopor, guru dan mitra untuk membahas keberlanjutan program.

Berakhirnya Land4Lives di Bone menjadi penanda beralihnya estafet dari program pendampingan menuju penguatan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga bentang lahan, memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.

(Ju)

Tinggalkan Balasan