KABARTA.ID,MAKASSAR— Ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan tumbuh 6,88 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan I 2026. Pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan kinerja ekonomi yang kuat, tetapi juga diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja dan perbaikan kualitas pekerjaan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, Aryanto, mengatakan capaian tersebut menunjukkan ekonomi daerah tetap resilien di tengah dinamika nasional.
“Provinsi Sulawesi Selatan tumbuh sebesar 6,88 persen (y-on-y),” ujarnya di Kantor BPS Sulawesi Selatan, Selasa (5/5/2026).
Pada periode tersebut, perekonomian Sulsel menghasilkan nilai tambah sebesar Rp191,28 triliun atas dasar harga berlaku. BPS juga merilis indikator lain, termasuk kondisi ketenagakerjaan Februari 2026 dan Indeks Ketimpangan Gender 2025.
Jumlah penduduk bekerja tercatat sekitar 4,75 juta orang atau meningkat 170,90 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi mulai berdampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja.
Dari sisi kualitas pekerjaan, proporsi pekerja penuh waktu meningkat menjadi 62,49 persen atau naik 5,05 persen poin. Sementara tingkat setengah pengangguran turun menjadi 6,17 persen dari sebelumnya 8,05 persen, menandakan pergeseran menuju pekerjaan yang lebih stabil dan produktif.
Struktur ekonomi Sulsel masih ditopang sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi. Sektor pertanian menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan porsi 23,71 persen.
Selain itu, sektor pertanian juga menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, yakni sekitar 34,06 persen atau setara 1,62 juta orang. Peran ini dinilai strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi, khususnya di wilayah pedesaan.
Secara nasional, Sulawesi Selatan masuk dalam enam besar provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan I 2026, melampaui sejumlah provinsi besar seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan DKI Jakarta.
Kontribusi Sulsel terhadap perekonomian nasional tercatat sebesar 3,10 persen, memperkuat posisinya sebagai salah satu motor ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi terus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berbasis sektor riil.
Strategi yang ditempuh antara lain penguatan sektor pertanian, hilirisasi komoditas unggulan, serta peningkatan konektivitas infrastruktur. Program strategis seperti kemandirian benih melalui Program Mandiri Benih dan hilirisasi pertanian juga terus digencarkan.
Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Sulawesi Selatan, Syamsul, menyebut capaian ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang mencapai 6,88 persen ini menunjukkan arah kebijakan pembangunan yang difokuskan pada sektor produktif dan penciptaan lapangan kerja mulai memberikan hasil nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah akan terus menjaga momentum agar pertumbuhan tetap berkualitas dan inklusif, terutama melalui program yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan dinilai tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas karena diiringi peningkatan penyerapan tenaga kerja dan perbaikan struktur pekerjaan. Ke depan, konsistensi kebijakan sektor riil, penguatan ekonomi desa, serta perluasan kesempatan kerja akan menjadi kunci menjaga tren positif tersebut. (Ju)*











