KABARTA.ID, BONE— Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni 2026 menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian bumi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone, Dray Vibrianto, mengajak masyarakat melakukan muhasabah atau introspeksi diri terkait dampak aktivitas sehari-hari terhadap lingkungan.
Menurut Dray, peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak seharusnya hanya berfokus pada persoalan besar seperti pencemaran sungai, kerusakan hutan, perubahan iklim, maupun tumpukan sampah. Ia menilai upaya menjaga lingkungan harus dimulai dari kesadaran individu terhadap kebiasaan yang dilakukan setiap hari.
“Sering kali kita melihat kerusakan lingkungan sebagai akibat dari aktivitas pihak lain atau terjadi di tempat yang jauh. Padahal, sebagian jejak kerusakan itu bisa saja berasal dari pola hidup dan aktivitas sederhana yang kita lakukan sehari-hari,” ujarnya dalam refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6/2026).
Dray mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan manusia. Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab sebagai khalifah untuk menjaga dan mengelola alam dengan bijaksana.
Ia menjelaskan, berbagai fasilitas yang dinikmati masyarakat saat ini, mulai dari listrik, air bersih, kendaraan, hingga perangkat elektronik, memiliki konsekuensi ekologis yang tidak selalu disadari. Begitu pula dengan barang konsumsi seperti pakaian, sepatu, tas, dan gawai yang proses produksinya membutuhkan energi, air, serta menghasilkan emisi karbon.
“Kita tidak dilarang menikmati kemajuan dan fasilitas modern. Namun yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa setiap kenyamanan yang kita nikmati memiliki dampak terhadap lingkungan,” katanya.
Lebih lanjut, Dray menyoroti persoalan pemborosan makanan atau food waste yang menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca secara global. Menurutnya, makanan yang terbuang bukan hanya menyia-nyiakan bahan pangan, tetapi juga energi, air, dan sumber daya yang digunakan selama proses produksi hingga distribusi.
Ia menegaskan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial seperti penanaman pohon atau aksi bersih-bersih yang bersifat sesaat. Langkah tersebut penting, namun harus dibarengi dengan perubahan perilaku dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita perlu bermuhasabah tentang bagaimana memperlakukan air bersih, menggunakan energi secara bijak, menghargai makanan, serta merawat barang yang dimiliki agar tidak cepat menjadi sampah,” ungkapnya.
Menurut Dray, krisis lingkungan yang terjadi saat ini bukan hanya persoalan teknologi atau regulasi, melainkan juga berkaitan dengan nilai-nilai moral dan tanggung jawab manusia terhadap alam.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai momentum untuk memulai perubahan dari hal-hal sederhana, seperti pola konsumsi, kebiasaan berbelanja, dan pengelolaan sampah rumah tangga.
“Perbaikan bumi tidak harus menunggu kebijakan global yang rumit. Perubahan bisa dimulai dari rumah, dari ruang makan kita, dan dari kesadaran bahwa bumi adalah titipan yang harus kita wariskan dalam kondisi baik kepada generasi mendatang,” tutupnya.
(Ju)*









