EdukasiOpini

Konsentrasi (Khusyuk) Bernegara

192
×

Konsentrasi (Khusyuk) Bernegara

Sebarkan artikel ini

Oleh:
Arman Mannahawu
Ketua Bidang Politik dan Kajian Strategis AMPI Sulsel

Pada lembaran ke 126-127 Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, sebuah buku yang tak hentinya mengiringi pembaringan jelang tidur, di sana dituliskan. Di tengah penjajahan Belanda, dalam sebuah perjalanan Presiden pertama Republik Indonesia (alm) Ir Soekarno bercakap dengan Gatot Mangkupraja (seorang wakil dari PNI).

“Bung, setiap agitator dalam setiap revolusi tentu menglami nasib masuk penjara. Di suatu tempat, entah dengan cara bagaimana, suatu waktu tangan besi dari hukum tentu akan jatuh pula di atas pundakku. Aku mempersiapkanmu sebelumnya”, kata Soekarno.

“Apakah Bung Karno takut ?” tanya Gatot. “Tidak. Aku tidak takut. Aku sudah tau akibatnya pada waktu memulai pekerjaan ini. Aku pun tahu, bahwa pada satu saat aku akan ditangkap. Hanya soal waktu saja lagi. Kita harus siap secara mental”, jawab Soekarno.

Percakapan singkat di atas bagi saya mengambarkan sebuah sikap tegas, membunuh keraguan lahirkan keyakinan. Menghempas katakutan menggenggam keberanian. Saya menyelami ke bagian dasar seputar percakapan itu, bahwa dialog Soekarno bersama Gatot terjadi saat suasana genting akibat penjajahan Belanda.

Suasana yang tentunya setiap saat menguji mental maju atau mundur, dan pilihan pemilik dialog di atas adalah Merdeka atau Mati. Soal nyali tak lagi diragukan. Soal keyakinan tak soal lagi, bahkan risiko sudah di luar kepala mereka. Saya terus penasaran ingin meraba. Apa yang kemudian membuat para pejuang ini “tuntas” di niat, lugas dalam perkataan, tegas dalam perbuatan.

Sontak saya berpikir, dialog di atas menggambarkan begitu detail pijakan bahasan mereka. Apa yang mereka perjuangkan, kenapa mereka berjuang, mengapa harus mereka. Jika demikian, saya dapatkan satu kata untuk mereka, kata yang saya duga keras ada dan terjadi pada mereka, entah itu disadari atau tidak. Yaitu konsentrasi.

Daya konsentrasi mereka saya gambarkan pada sebuah kekhusyukan seorang Hamba Allah yang tengah menyembahNya. Konsentrasi membawa pikiran dan jiwanya saling bertautan dari awal ke tengah. Tengah menggapai akhir. Konsentrasi yang luar biasa menstimulus sebuah keyakinan akan tercapai dan berhasilnya perjuangan mereka.

Ibarat Hamba yang tengah khusyuk beribadah maka niat (di hati), perkatan (di lidah), perbuatan (di raga) telah menyatu dalam bingkai “dialog” dengan sang Khalik, ketika itu terjadi sesuatu yang akan dikirim dipastikan terlebih dahulu sampai di tujuan, ketika itu terjadi sesuatu pemberian dipastikan dahulu diterima sebelum diserahkan, itu semua terjadi pada umumnya dalam keadaan konsentrasi dalam sebuah pekerjaan.

Baca Juga:  Penguatan Profil Pelajar Pancasila, MIN 3 Bone Laksanakan Pagelaran Seni

Saya mulai mengamati, jika daya konsentrasi membuat alam berpikir fokus ke objek pikir, membuat aktivitas raga terarah dan kompak (tak pernah saling menyalahkan) bekerja dengan baik.
“Woowww”. Indah dan luar biasa bagi mereka yang mampu melahirkan daya konsentrasinya dalam sebuah perhelatan ikhtiar.

Indonesia, sebuah Bangsa yang saat ini mengalami beberapa polemik di tengah-tengah masyarakat. Sebutlah polemik Pancasila sebagai ideologi negara, narkoba wajah baru penjajah Indonesia, Korupsi menghantui, Covid-19 yang membunuh dan hadirkan beberapa polemik turunan.

Coba kita konsentrasi melihat beberapa polemik ini. Kita melihat polemik ini pada bingkai konkret, bahwa peristiwa ini tengah terjadi dan menyulitkan kita semua, bukan hanya melanda si fulan, bahkan bangsa ini tengah menjerit.

Konsentrasi berkata “Anda akan menjadi bangsa yang jauh tertinggal jika polemik itu disikapi dengan (hanya) menempatkan kesalahan tanpa ada sisi bijaksana melihat kemungkinan ada ruang dan kondisi yang melahirkan (bisa saja terpaksa) polemik itu”.

Ideologi Pancasila diulas kembali. Ideologi sebuah bangsa ibarat nafas pada tubuh manusia. Karena ia adalah sumber konstitusi tertinggi negara Indonesia. Apa mungkin kita bahas ulang betulkah ada nafas? Apakah mungkin kita butuh yang lain selain nafas? Siapa tahu saja tanpa nafas kota bisa hidup.

Pertanyaan itulah yang menjelma dalam ruang-ruang debat ketika kita debat ideologi negara. Semestinya, rakyat dan negara (lewat daya kerja kabinet eksekutif dan lembaga Legislatif) mengupayakan satu paradigma menyikapi ideologi negara, yakni manusia (Bangsa) melakukan berbagai varian dan metode yang efektif dan efisien dalam menggunakan nafasnya (ideologi).

Penggunaan ideologi ini seharusnya melukis wibawah negara, dengan ideologi maka rakyat sebagai sumber mandat negara menjadi kumpulan manusia yang dihargai (sarana Ibadah, pekerjaan dan pendidikan, fasilitas kesehatan) oleh pejabat negara apalagi “para pendatang”. Dengan ideologi pula pemerintah tidak kesulitan menjelaskan kebijakan-kebijakannya yang harus dituruti, dengan Ideologi hukum “tak berdaya” menghakimi, dengan Ideologi keinginan pemerintah/negara adalah bersumber dari kebutuhan rakyatnya.

Baca Juga:  Tepatkah OJK Dibubarkan?

Ideologi menuntaskan sendi khidmat kehidupan berbangsa dan bernegara. Ideologi tak mengenal kegagalan karena, ia ideal di masa penciptaannya dan (harus) sempurna hadapi peradaban.

Konsentrasi juga menilai kejahatan narkoba di dalam negeri dijadikan ladang bisnis gelap yang meraup untung cepat dan luar biasa, namun jauh di sana ada dugaan keras bahwa ini adalah model terbaru menjajah Indonesia. Dengan Narkoba, ibarat Indonesia adalah tubuh manusia yang dipenuhi dengan seragam anti peluru maka untuk membuatnya tumbang dengan memasukkan makanan/minuman yang merusak organ tubuh, maka cepat atau lambat manusia itu (generasi Indonesia) jangankan peduli dengan tanah airnya, peduli dengan tubuhnya saja tak mampu.

Olehnya itu, darurat narkoba yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia segera dirumuskan kembali. Merumuskan arah dan tujuan yang detil dan substantif dalam memerangi Narkoba. Kerjasama multilateral dengan semua negara tetangga untuk menutup katub perbatasan atas perdagangan narkoba, kemudian di dalam negeri lakukan pembersihan narkoba dengan cara ekstrem.

Semisal (ini hanya contoh) negara memberikan award dalam bentuk materi, rehab (bagi yang ketergantungan), perlindungan total (termasuk kerahasiaan identitas) atas keselamatannya bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang sukarela mengakui (sekaligus membuka informasi jejaring narkoba) dirinya terlibat kejahatan narkoba.

Konsentrasi kita terhadap korupsi. Kerusakan mendasar korupsi adalah kerugian yang luar biasa terhadap keuangan negara, kerugian ini pula akan lahirkan kerugian dan kesulitan besar bagi rakyat. Olehnya itu, penting Indonesia menegaskan strategi penanganan kejahatan korupsi dengan fokus pada pengembalian kerugian negara.

Aparat hukum kita yang siang malam bekerja kita apresiasi, namun negara ikut menanggung beban kerja mereka dengan gelontorkan anggaran. Maka kita semua berharap harus ada balance antara uang negara yang hilang plus beban pembiayaan negara dalam pengusutan kasus korupsi dengan pengembalian kerugian Negara.

Lalu, konsentrasi menyikapi Covid-19 justru akan mempertahankan dan menjaga imun tubuh tetap baik. Panik dan gegabah menyikapi polemik kesehatan nasional justru menjadi penyakit baru yang mampu membunuh tanpa virus.

Kalau konsentrasi Covid-19 adalah penyakit yang ingin kita semua terbiasa hidup bersih (cuci tangan dan memakai masker), sambil itu kita berkolaborasi (kompak) memastikan diri masing-masing terhindar dari virus tersebut. Negara memfasilitasi dan memastikan para ahli meneliti dan hadirkan obat untuk virus ini, percayakan tenaga medis melakukan dan menetapkan protap medis terkait pasien yang diduga atau positif terjangkit virus.

Baca Juga:  Transformasi Ekonomi: APBN 2024 dan Strategi Pembangunan

Negara hadir dalam sebuah kepastian menyikapi warganya yang terdampak Covid-19. Kekompakan kerja di kabinet perlu untuk memastikan semua efektif bekerja (tidak tumpang tindih), warga negara ikut menjalin rekatan stimulan penanganan Covid-19 oleh pemerintah.

Coba kita bayangkan, virus ini telah melahirkan kesulitan aktifitas pemerintah dan warga, negara harus mengeluarkan energy untuk mendeteksi dan menangani warganya yang terjangkit Covid-19, dalam prosesnya acapkali terjadi pertentangan.
Konsentrasi kerja. Negara jika perlu dengan anggaran “tebal” memfasilitasi dengan semua fasilitas yang diinginkan para ahli yang berkaitan dengan Covid-19 ini untuk berada dalam sebuah tempat di mana tercipta penelitian akurat terhadap virus ini.

Jika Indonesia berhasil mencetak “akte kelahiran” virus ini maka ahli mampu meraba ia berasal dari mana, dominan berumur berapa lama dengan medium tempat yang tentu bervariasi, ahli akan temukan potensi virus ini dapat/tidaknya berkembang biak (jika dapat berkembang biak, dengan cara bagaimana), ahli akan temukan kadar imun yang mampu melawan daya rusak virus, sehingga atas temuan-temuan ini Indonesia akan lahirkan anti-virus yang beragam sesuai kebutuhan (tergantung keadaan daerah dan manusianya).

Indonesia ini selalu kita sepakati sebagai negeri yang kaya. Jangan-jangan Covid-19 yang dunia akui kedahsyatannya membunuh ternyata antivirusnya ditemukan di negeri Indonesia, sayang jika tidak diteliti jika kemudian ada analisa bahwa virus ini masih akan berlangsung lama.

Kesemuanya ini adalah polemik bangsa yang kita cintai. Negara dengan segala kemampuannya akan terlibat menangani semuanya. Konsentrasi adalah khusyuk bekerja. Konsentrasi (dalam) bernegara tidak ingin kita saling menyakiti di tengah peluh derita. Dalam rangkaian sebua Ibadah (salat misalnya) jika tak khusyuk maka hilanglah dialog dengan Sang Khalik sebagai substansi salat.

Jika konsentrasi hilang dalam Bernegara maka rentan tercipta sikap dan perilaku yang mubazir, aktivitas yang menguras energi dengan faedah “membakar sampah daun mentah yang basah”.

Jika Konsentrasi tidak membuat keinginan kita sama, semoga memberi kesadaran bahwa kebutuhan kita pada negara ini ternyata sama. (*)