Sulsel

Bukan dari Kalimantan, BMKG Ungkap Penyebab Udara Sulsel Memburuk, Bone dan Soppeng Jadi Sorotan

187
×

Bukan dari Kalimantan, BMKG Ungkap Penyebab Udara Sulsel Memburuk, Bone dan Soppeng Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

KABARTA.ID, MAKASSAR— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah menjadi salah satu pemicu memburuknya kualitas udara di Sulawesi Selatan (Sulsel). Kabupaten Bone dan Soppeng disebut sebagai wilayah yang memiliki titik api dan berpotensi menyumbang polutan hingga ke daerah lain, termasuk Kota Makassar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mencatat lebih dari lima titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di wilayah Sulsel pada Rabu (14/10/2026).

Ketua Kelompok Kerja Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha, mengatakan sumber pencemaran udara berasal dari sejumlah lokasi, baik di dalam maupun di luar Sulsel.

“ Sumber polutan di Sulsel sendiri banyak, yang paling dekat wilayah Makassar ada di Soppeng dan Bone,” kata Rizky kepada jurnalis di Balai Kota Makassar, Rabu (14/10/2026).

Baca Juga:  Kolaborasi TNI, Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan 40 Rumah Layak Huni untuk Warga Takalar

Ia menjelaskan, pergerakan angin turut memengaruhi penyebaran asap hingga ke berbagai daerah. Jika sebelumnya asap yang menyelimuti Sulsel dikaitkan dengan kebakaran di Kalimantan dan Sumatera, kondisi saat ini menunjukkan adanya pengaruh dari wilayah lain di kawasan timur Indonesia.

Menurut Rizky, kebakaran hutan dan lahan di Maluku serta Papua Selatan, termasuk kawasan Merauke, juga berkontribusi terhadap masuknya asap ke Sulawesi Selatan.

“Penyebab kabut asap itu juga dari karhutla di luar daerah Sulsel, seperti Maluku, Papua Selatan, dan daerah Merauke. Itu juga mengakibatkan asap di Sulsel, termasuk di Makassar,” ujarnya.

Konsentrasi PM2.5 Capai Level Tertinggi

Selain mengidentifikasi sumber asap, BMKG juga memantau konsentrasi partikel halus PM2.5 yang menjadi salah satu indikator kualitas udara.

Baca Juga:  Gubernur Sulsel Groundbreaking Jalur Pegunungan Luwu Utara, Akses Menuju Seko Dipercepat

Berdasarkan pemantauan tersebut, 14 Oktober 2026 tercatat sebagai hari dengan konsentrasi PM2.5 tertinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya sejak 30 September 2026.

Rizky menyebut kondisi kualitas udara pada hari itu berada dalam rentang kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Tingginya konsentrasi PM2.5 menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian dalam paru-paru.

Kondisi ini membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan ketika kabut asap menyelimuti wilayahnya.

BMKG mengungkapkan, kondisi kualitas udara tersebut berkaitan dengan kombinasi sumber polutan dari kebakaran di sejumlah wilayah dan perubahan arah angin yang membawa asap ke Sulawesi Selatan.

Baca Juga:  Bupati Bone Dukung Pembinaan Otomotif, Hadiri MRD Celebes Series dan Kejuprov Sulsel di Sidrap

Pemantauan terhadap titik api, pergerakan angin, dan konsentrasi partikel di udara diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi atmosfer serta potensi dampaknya bagi masyarakat.

(Ju)*

Tinggalkan Balasan