Daerah

Ribuan Hektare Mulai Ditanami, Petani Bone Utara Harap Sumur Bor di Tengah El Nino

46
×

Ribuan Hektare Mulai Ditanami, Petani Bone Utara Harap Sumur Bor di Tengah El Nino

Sebarkan artikel ini

KABARTA.ID,BONE— Musim tanam padi mulai berlangsung di sejumlah wilayah Bone Utara. Memasuki September hingga Oktober 2026, petani di Kecamatan Dua Boccoe dan Ajangale mulai mengolah dan menanami lahan persawahan yang luasnya mencapai ribuan hektare.

Namun, musim tanam kali ini dihadapkan pada tantangan berat. Fenomena El Nino membuat curah hujan minim sehingga ketersediaan air untuk persawahan menjadi terbatas.

Petani pun harus mencari cara agar tanaman padi yang mulai ditanam tetap mendapatkan pasokan air. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan pompa untuk mengambil air dari Sungai Walanae.

Bagi petani, keberadaan pompa menjadi sangat penting. Namun, pengoperasiannya membutuhkan bahan bakar minyak (BBM), sementara mendapatkan solar dan bensin menjadi persoalan tersendiri.

Baca Juga:  Evaluasi Kinerja, Komisioner KPU Bone Ajak Badan Ad Hoc Kerja Gotong Royong

Seorang anggota kelompok tani Salo Sibalie, Desa Solo, Ambotang mengatakan petani terkadang harus membeli BBM dari sesama petani yang telah mengantre di SPBU.

“Susahnya sekarang mendapatkan solar sama bensin di SPBU. Rata-rata petani ambil dari petani yang antre, dengan harga solar Rp10 ribu hingga bensin Rp15 ribu,” ujarnya, Senin (5/10/2026).

Kondisi tersebut membuat biaya produksi petani meningkat. Selain harus mengeluarkan biaya untuk BBM, petani juga menghadapi minimnya hujan yang membuat kebutuhan pengairan semakin besar.

Petani lainnya, H. Muh Tang menambahkan 0ersoalan air bahkan semakin kompleks karena air asin dari arah Teluk Bone mulai masuk ke Sungai Walanae.

“Air asin dari Teluk Bone sudah masuk ke sungai,” ungkapnya.

Baca Juga:  Bupati Bone Hadiri Latihan Penanggulangan Bencana, Pangdam XIV Hasanuddin Tekankan Sinergi

Kondisi ini menjadi kekhawatiran bagi petani yang mengandalkan Sungai Walanae sebagai salah satu sumber air untuk mengairi sawah. Jika debit air semakin berkurang dan kadar air asin meningkat, petani akan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan air tanaman.

Di tengah kondisi tersebut, petani berharap pemerintah memberikan dukungan nyata untuk menjaga keberlangsungan musim tanam. Bantuan pompa air dan pembangunan sumur bor dinilai menjadi salah satu solusi yang dapat membantu petani mendapatkan sumber air alternatif.

Sumur bor kini menjadi harapan petani Bone Utara agar ribuan hektare lahan yang mulai ditanami tetap bisa mendapatkan pasokan air, terutama ketika hujan belum juga turun.

“Paling membantu saat ini yakni sumur bor bagi petani,” harapnya.

Baca Juga:  Baznas Bone Salurkan Bantuan Bedah Rumah untuk Guru Mengaji

Bagi petani, musim tanam tahun ini bukan sekadar soal menanam benih dan menunggu panen. Mereka harus berpacu dengan cuaca, mencari sumber air, mengatasi mahalnya biaya BBM, sekaligus menghadapi ancaman masuknya air asin ke Sungai Walanae.

Di tengah segala keterbatasan itu, petani tetap memilih menanam. Sebab bagi mereka, setiap rumpun padi yang tumbuh adalah harapan untuk mempertahankan penghidupan dan menyambung kehidupan keluarga.

(Ju)*

Tinggalkan Balasan