Daerah

Pemkab Bone Bersama ICRAF-YLPMI Perkuat Kolaborasi Dorong Pertanian Cerdas Iklim Responsif Gender

151
×

Pemkab Bone Bersama ICRAF-YLPMI Perkuat Kolaborasi Dorong Pertanian Cerdas Iklim Responsif Gender

Sebarkan artikel ini

KABARTA.ID, BONE— Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone bersama ICRAF World Agroforestry dan Yayasan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (YLPMI) memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendorong penerapan pertanian cerdas iklim yang responsif gender.

Upaya tersebut diwujudkan melalui workshop bertajuk Panen Pengetahuan dan Belajar Bersama Pengelolaan Bentang Lahan dalam Adaptasi Pertanian Cerdas Iklim yang Responsif Gender.

Workshop yang digelar Selasa (16/12/2025) di Hotel Novena, Kabupaten Bone, menjadi ruang temu antara pemerintah daerah, masyarakat, dan lembaga pendukung pembangunan berkelanjutan untuk merumuskan solusi konkret menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya di sektor pertanian.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Climate-Based Livelihood Enhancement and Food Security for Marginalized Communities and Women’s Groups in Bone District. Program tersebut didukung ICRAFWorld Agroforestry dan Pemkab Bone, dengan pendanaan Global Affairs Canada (GAC) melalui skema Sustainable Landscape Livelihood in Indonesia (Land4Lives).

Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM, yang membuka kegiatan secara resmi, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop tersebut. Ia menegaskan bahwa pengelolaan bentang lahan dan penerapan pertanian cerdas iklim harus dipahami sebagai upaya bersama yang melibatkan seluruh potensi daerah.

Baca Juga:  Kasus COVID-19 Meningkat, ASN Lutra Kembali Kerja dari Rumah. Berlaku Mulai 28 Juli 2021

Menurutnya, forum semacam ini penting dimaksimalkan untuk mendorong peningkatan produksi pertanian yang berkelanjutan dengan pelibatan semua pihak tanpa membedakan peran gender.

“Kita ingin peserta memperoleh pengetahuan tentang bagaimana menyeimbangkan pembukaan lahan dengan kewajiban menjaga kelestarian lingkungan. Harapannya, Bone ke depan menjadi lebih baik,” ujarnya.

Andi Akmal juga berharap peserta workshop mampu menjadi inovator di wilayah masing-masing, tidak hanya dalam memelihara lahan, tetapi juga mengoptimalkan potensi serta kearifan lokal demi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.

Di sisi lain, Wakil Bupati Bone menyoroti maraknya aktivitas pertambangan ilegal yang dinilai menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Ia menegaskan perlunya penindakan tegas terhadap praktik penambangan tanpa izin.

“Tambang ilegal harus dihentikan. Ada atensi khusus hingga ke Mabes Polri. Tambang ilegal tidak memberi kontribusi bagi daerah dan merusak lingkungan,” tegasnya.

Baca Juga:  Tingkatkan Kemampuan Assesor, Danyon C Pelopor Ikuti Sharing Session Virtual

Sementara itu, Koordinator YLPMI, Ir. Andi Mabbiritta, didampingi Mulyadi Makmur dari SCF, menyatakan bahwa workshop ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan wadah berbagi praktik baik yang telah berkembang di desa-desa dampingan.

“Banyak praktik positif yang sudah dilakukan masyarakat desa dalam pengelolaan lahan dan suplai pertanian. Ini diharapkan menjadi inspirasi bagi desa lain untuk mengembangkan pertanian cerdas iklim dan ketahanan pangan berbasis gender,” katanya.

Ia menekankan pentingnya pendekatan responsif gender, di mana tanggung jawab pengelolaan lahan menjadi peran bersama antara laki-laki dan perempuan demi keberlanjutan keluarga dan desa.
“Kami terus berkolaborasi dengan ICRAF dan pemerintah daerah untuk mewujudkan pertanian cerdas iklim yang inklusif,” tambahnya.

Dalam workshop tersebut juga ditegaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan serius bagi pertanian di Bone. Pola musim yang sulit diprediksi, suhu ekstrem, serta meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman membuat petani kecil—terutama perempuan dan kelompok rentan—menjadi pihak yang paling terdampak.

Baca Juga:  Lantik Pengurus DPK AMPI Kecamatan SABSEL Ini Harapan Azhal

Pendekatan Climate Smart Agriculture (CSA) dinilai sebagai solusi strategis, namun implementasinya membutuhkan keterlibatan lintas sektor dan pemangku kepentingan. Konsorsium SCF–YLPMI berperan sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik lapangan.

Pemaparan capaian konsorsium turut disampaikan melalui berbagai pembelajaran berbasis riset aksi di desa-desa, mulai dari inovasi pertanian adaptif, penguatan kelompok perempuan, hingga pengelolaan bentang lahan yang berkelanjutan. Sebuah video bertajuk Cerita dari Konsorsium juga ditayangkan untuk menggambarkan sinergi pengetahuan lokal, teknologi tepat guna, dan pendekatan gender.

Sesi talkshow menghadirkan perwakilan Kelompok Belajar Desa Bulu Sirua, Kepala Desa Mattampawalle Kecamatan Lappariaja, serta perwakilan Bappeda Bone, Dinas PMD, dan Dinas Lingkungan Hidup. Para narasumber berbagi pengalaman terkait adaptasi pola tanam, penggunaan pupuk organik, penguatan peran gender.

(Ju)*