Oleh Darwis Tahang, SH.,MH.,MM
Akademisi, Pegiat Pemilu dan Demokrasi
OPINI — Setiap momentum Hari Guru Nasional seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi seatu momentum untuk menguji keberanian kita untuk bercermin dan intropeksi diri, apakah pendidikan Indonesia sedang bergerak menuju kemajuan atau justru berputar dalam lingkar stagnasi atau bergerak dalam suatu labirin? Di tengah arus modernitas yang deras, pendidikan kita dihadapkan pada tantangan serius degradasi moral, runtuhnya etika dan kesopanan, hilangnya rasa hormat, serta semakin pudarnya kepekaan sosial peserta didik.
Pertanyaannya di manakah titik mulainya pembenahan?
Untuk menjawabnya, kita perlu kembali pada dua sumber inspirasi besar dalam sejarah pendidikan Paulo Freire dan sosok pembawa Rahmat dan cahaya kebenaran Nabi Muhammad SAW. Dua sosok dari masa dan landasan pemikiran yang berbeda, namun memiliki satu tujuan yang sama menempatkan pendidikan sebagai gerakan memanusiakan manusia.
Pendidikan sebagai Humanisasi Suara Paulo Freire yang Kian Relevan Paulo Freire pernah mengkritik model pendidikan yang ia sebut sebagai banking education, yaitu pendidikan yang memperlakukan siswa sebagai wadah kosong yang harus diisi.
Dalam model ini guru adalah pemilik pengetahuan, siswa hanyalah penerima pasif. Freire menegaskan bahwa pendidikan semacam itu bukan hanya gagal mencerdaskan, tetapi juga membunuh potensi manusia.
Konsep Freire tentang conscientização kesadaran kritis sangat relevan dengan kondisi Indonesia anak-anak kita lebih banyak menghafal daripada memahami, lebih banyak menerima daripada mempertanyakan.
Mereka jarang diberi ruang untuk berdialog, berargumentasi, atau mengkritisi realitas sosialnya dan bekerja sama dalam memecahkan suatu problem. Pada Hari Guru Nasional, pesan Freire kembali menggema Pendidikan harus menjadi gerakan pembebasan.Dan pembebasan itu berpangkal pada sosok guru.
Pendidikan Nabi Muhammad SAW
Keteladanan sebagai Inti Transformasi
Sementara Freire berbicara tentang dialog dan humanisasi, Nabi Muhammad SAW menunjukkan contoh paling konkret dari pendidikan yang mengubah peradaban. Beliau mengajarkan akhlak tidak dengan ceramah semata, tetapi melalui keteladanan uswah hasanah.
Nabi membentuk pijakan pendidikan berdasarkan:
Akhlak: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
Kasih sayang: lembut dalam tutur, penuh empati dalam mendidik.
Personalized instruction: menyesuaikan nasihat dengan kemampuan dan kondisi psikologis setiap sahabat.
Konsistensi moral: beliau tidak pernah meminta sesuatu yang tidak ia lakukan.
Konsep ini menjawab situasi kita hari ini. Degradasi moral tidak bisa dilawan dengan kurikulum semata. Ia hanya bisa ditangani melalui keteladanan guru, karena karakter tidak ditransfer melalui kata-kata, tetapi dipantulkan melalui tindakan. Di sinilah guru menjadi mata air keteladanan dan Indonesia kehausan akan mata air itu.
Potret Pendidikan Indonesia Sistem yang Majemuk, Tantangan yang Berat Indonesia memiliki sistem pendidikan yang kompleks kurikulum yang sering berubah, beban administratif guru yang tinggi, fasilitas yang timpang, kompetensi literasi yang rendah, dan ketergantungan berlebihan pada standar ujian.
Sementara itu, dunia berubah cepat teknologi memengaruhi pola pikir anak,, media sosial membentuk karakter, ruang digital memunculkan budaya instan, kemampuan fokus dan empati menurun.
Akibatnya, guru tidak hanya mendidik, tetapi harus berperan sebagai psikolog, pengarah moral, penjaga akhlak, dan sekaligus navigator digital bagi murid-muridnya. Namun, penghargaan terhadap guru kerap tidak sebanding dengan beban tanggung jawabnya.
Hari Guru Nasional seharusnya menjadi momentum pengakuan bahwa kemajuan bangsa ditentukan oleh kualitas gurunya. Bangsa yang meremehkan guru sedang menggali kuburannya sendiri.
Degradasi Moral dan Krisis Etika: Tanda Bahaya yang Tak Boleh Diabaikan
Perubahan sosial membuat anak-anak hari ini semakin berani secara digital namun semakin rapuh secara emosional.
Fenomena berikut menjadi alarm keras hilangnya sopan santun dalam bertutur, berkurangnya respek terhadap guru dan orang tua, kemampuan menyimak melemah, meningkatnya agresivitas verbal, buruknya literasi dan budaya baca. Tanpa filter moral, teknologi justru mempercepat kerusakan.
Inilah saat guru dipanggil untuk kembali menjadi penjaga moralitas (moral keeper) tetapi tentu harus diberi ruang, kehormatan, dan dukungan untuk menjalankan tugas itu.
Solusi Transformasi Kembali ke Humanisasi, Keteladanan dan Kreativitas Transformasi pendidikan Indonesia membutuhkan perubahan paradigma. Di sinilah pemikiran Freire, Nabi Muhammad SAW dan Anies Baswedan bertemu dalam satu simpul pendidikan yang menumbuhkan manusia kreatif, merdeka, berakhlak, dan sadar realitas.
Dan langkah solutif yang sebaiknya dibumikan ;
1. Guru sebagai Teladan Moral (Nabi Muhammad SAW) Tidak ada teknologi yang dapat menggantikan keteladanan. Pendidikan karakter tidak akan hidup tanpa model hidup yang nyata di aktualisasikan oleh guru.
2. Pendidikan Berbasis Dialog dan Kesadaran Kritis (Freire) Kelas harus menjadi ruang demokratis murid bertanya, berdiskusi, berdebat, dan memecahkan masalah. Model monolog harus digantikan dengan dialog.
3. Menumbuhkan Kreator, Bukan Penghafal (Anies Baswedan) Pesan Anies Baswedan “Jangan hanya menjadi pembaca, jadilah penulis. Jangan hanya menjadi pendengar, jadilah kreator.”
Ini bukan sekadar slogan, tetapi manifestasi dari sistem pendidikan yang mendorong murid untuk menulis gagasan, mencipta karya, memproduksi pengetahuan, berkarya secara orisinal, dan berani tampil, berani bertanya, berani berbeda.
Dalam konteks ini, guru harus menjadi fasilitator kreativitas murid, bukan penjaga lembar jawaban.
4. Meringankan Beban Administrasi Guru Agar guru dapat mendidik, bukan sekadar mengisi formulir.
5. Pemulihan Budaya Hormat dalam Pendidikan Restorasi etika harus menjadi agenda nasional: tatakrama, kesopanan, dan respek terhadap guru harus kembali ditegakkan.
6. Literasi sebagai Gerakan Nasional Budaya baca, diskusi, dan menulis harus masuk dalam identitas sekolah. Murid yang membaca saja belum cukup mereka harus menulis dan mencipta.
Guru adalah Masa Depan Indonesia
Di Hari Guru Nasional ini, kita diingatkan bahwa tidak ada profesi yang lebih menentukan masa depan bangsa daripada guru. Freire mengingatkan kita tentang bahaya pendidikan yang mematikan kesadaran. Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya teladan dan akhlak. Anies Baswedan mengajak kita melampaui budaya pasif menjadi budaya kreasi.
Ketiganya bertemu dalam satu pesan yang besar bahwa Pendidikan adalah perjuangan memanusiakan manusia Dan di garis terdepan perjuangan itu, berdirilah sosok guru.
Semoga guru-guru Indonesia kembali diberi kehormatan, kekuatan, dan ruang untuk menyalakan cahaya peradaban.
(JU)*









