Bontang – Isu hoax seputar nyamuk wolbachia bertebaran pada jejaring media sosial memunculkan kekhawatiran masyarakat Bontang.
Pasalnya, pengembangbiakan dan penyebaran sudah dilakukan di sejumlah titik dalam Kota Taman julukan daerah Bontang.
Dinkes pun diminta anggota DPRD untuk menggandeng tokoh masyarakat dan influencer untuk menangkal berita negatif tersebut.
Hal ini disampaikan Adrofdita, anggota Komisi I DPRD Bontang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinkes dan perwakilan setiap kelurahan.
“Yang pertama tangkal dulu berita negatif soal nyamuk wolbachia. Kalau bisa libatkan saja tokoh masyarakat dan influencer untuk memberikan informasi nyamuk ini bahwa ini tidak membahayakan,”jelas Adrofdita saat rapat RDP, (05/12/2023).
Menurutnya, masyarakat harus diberikan informasi bahwa nyamuk wolbachia salah satu tindakan pencegahan untuk mengatasi demam berdarah dengue (DBD) di wilayah mereka.
Artinya untuk memberikan pengetahuan kalau nyamuk tidak menyebarkan penyakit seperti kabar miring yang beredar di media sosial.
“Karena masih banyak masyarakat yang belum paham soal nyamuk wolbachia,’jelasnya.
Kurangnya literasi soal nyamuk wolbachia membuat masyarakat cenderung cepat terpancing terhadap berita-berita yang tidak benar. Imbas muncul kekhawatiran dan penolakan tentang kebijakan tersebut.
“Sosialisasi harus terus dari tingkat RT agar informasi yang diterima jelas. Sekarang zaman teknologi tinggal disebar dalam grup WA RT, perumahan dan seterusnya,’imbuhnya.
Sementara itu, Kadis Kesehatan Bontang, Ekowati mengatakan Bontang terpilih sebagai pilot project pengembangbiakan nyamuk wolbachia karena tingkat DBD tergolong tinggi, bahkan tahun ini dua orang meninggal dunia.“
Ada lima daerah jadi pilot project Bontang, Kupang, Jakarta Barat, Bandung dan Semarang,’sebutnya.
Dijelaskan, sebenarnya penyebaran nyamuk wolbachia bukan lagi tahap uji coba namun sebagai aksi nyata untuk menanggulangi penyakit DBD di Kota Bontang saat ini.
“Pada saat uji coba diklaim manjur untuk menekan angka DBD hingga 77 persen di Kota dan 86 persen di rumah sakit. Uji coba ini dilakukan Yogyakarta sejak tahun 2011,’pungkasnya.