Oleh: Awaludin
Calon Kandidat Ketua Umum PB HMI
Independensi seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) nyaris terlupakan. Nyaris tergerus oleh politik praktis. Padahal itu adalah bekal utama untuk berperan aktif di era digitalisasi saat ini.
Hal itu sudah ditegaskan dalam rumusan Konstitusi HMI dalam Pasal 6 yang mengemukakan secara tersurat bahwa “HMI adalah organisasi yang bersifat independen”. Sifat dan watak independen HMI adalah merupakan hak asasi yang pertama.
Ketika organisasi lain sudah maju dengan persoalan zaman, kita masih bergelut dengan persoalan internal yang carut marut. Kawan, HMI ini bukan milik kelompok tertentu. HMI milik semua kader.
HMI diikhtiarkan sebagai wadah bagi kader menjadi Cendekiawan Muslim yang handal. Sanggup menembus zamannya. “HMI To The Returns Struggleer”. Kembali pada khittah perjuangan. Lebih berkarakter, lebih kreatif, dan lebih terpandang.
Setiap tahun kita mengadakan refleksi. Setiap tahun pula kita menjabarkan kesalahan yang hampir sama dari tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana kita bisa berbenah jika tidak membentuk sebuah poros yang lebih mengedepankan kepada pengabdian masyarakat.
Tidak usah disetiap dusun. Minimallah disetiap desa. Membantu menyuarakan keluhan mereka. Dirikan sekolah-sekolah rakyat. Mendidik dengan cara sederhana. jika begitu, maka identitas organisasi tertua di Indonesia ini akan tetap eksis.
Bukan cuman bergelut dengan gadget. Bukan cuman fokus terhadap kampus-kampus. Tetapi lebih fokus lagi kepada tri darma perguruan tinggi. Lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat. Bukan hanya kepada kaum elite.
Idealnya HMI tetap menjadi kelompok penekan sekaligus alat komunikasi politik untuk turut menjaga keseimbangan politik di Indonesia. Dengan begitu seyogyanya kader secara etis bisa melihat sampai sejauh mana kewenangannya dalam politik nasional maupun lokal. Tidak gamang dan kemudian terlena untuk diserap pusaran kekuasaan.
Kenapa harus HMI Berkarakter, Berdikari, Kreatif, Terpandang? Karena kader HMI harus mempunyai value (nilai) kemandirian. Mampu berdiri sendiri, tak selalu bergantung pada senior. Kader HMI punya kreatifitas yang mampu melakukan hal-hal yang positif.
Jadi, setiap cabang nantinya bisa punya kemandirian, minimal punya income yang dikelola oleh kader-kader atau pengurus cabang. Tidak lagi menyodorkan proposal kiri kanan. Itulah karakter yang harus ditanamkan kepada kader. Pastinya harus dibimbing dan dibina. Dan perubahan itu sudah harus dilakukan sejak sekarang.
“Pura Babbara Sompeku, Pura Tangkisi Gulikku, Ulebbirang Tellengnge natowalie”. Artinya layar sudah terkembang, kemudi sudah terpasang, aku lebih baik tenggelam dari pada harus mundur. (*)